salah kaprah tentang hipertensi

Image Source

Hipertensi atau yang biasa orang sebut dengan tekanan darah tinggi sudah bukan hal yang asing lagi di tengah masyarakat. Lebih lagi bagi yang sudah berkepala 4, hal ini menjadi bahasan wajib dalam berbagai bahasan kesehatan pada umumnya. Penyakit darah tinggi kerap kali menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang dewasa di atas usia 40 tahun. Padahal usia bukanlah faktor utama seseorang terjangkit hipertensi. Buktinya banyak orang yang sudah terjangkit penyakit ini sejak masih remaja.

Hipertensi sendiri merupakan kondisi dimana tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mmHg. Angka 140 mmHg merujuk pada bacaan sistolik, ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Sementara itu, 90 mmHg mengacu pada bacaan diastolik, ketika jantung dalam keadaan rileks sembari mengisi ulang bilik-biliknya dengan darah.

Banyaknya penderita hipertensi di dunia ini membuat banyak sekali persepsi yang muncul. Beberapa orang beranggapan bahwa hipertensi erat kaitannya dengan orang yang sudah berumur dikarenakan sistem kekebalan tubuh ikut mengalami penurunan ketika usia manusia semakin menua. Lemahnya fisik mendekati waktu menopause juga menjadi salah satu alasan berbagai penyakit dapat dengan mudah menggerogoti tubuh.

Sebenarnya tidak ada yang salah sih dengan persepsi itu. Dalam teori juga menyebutkan bahwa rentannya penyakit yang masuk dalam tubuh disebabkan kelemahan fisik penderitanya. Namun, tidak semua persepsi bisa dibenarkan. Ada beberapa persepsi yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan teori yang ada, bahkan berbanding terbalik. Kami telah merangkum beberapa persepsi masyarakat tentang hipertensi yang sering kali kita temui sehari-hari.

1. Tensi Tinggi Berarti Jumlah Darah Banyak

hipertensi artinya bukan jumlah darah yang banyak

Image Source

Tidak sedikit orang yang mempunyai pemikiran bahwa tensi atau tekanan darah merupakan kadar darah dalam tubuh. Sehingga jika tensi tinggi berati jumlah darahnya banyak, sedangkan jika tensi rendah dikatakan kurang darah atau anemia. Ini merupakan persepsi yang salah. Karena tekanan darah tidak ada kaitannya dengan volume darah dalam tubuh.

Tekanan darah merupakan kekuatan aliran darah dari jantung yang mendorong melawan dinding pembuluh darah (arteri). Jadi sudah jelas ya, jika tekanan darah disini tidak ada hubungannya dengan volume darah dalam tubuh tapi lebih berkaitan dengan kinerja jantung. Itu yang menjadi alasan kebanyakan penderita hipertensi juga memiliki penyakit jantung.

2. Tensi Tidak Mudah Berubah

hipertensi menyebabkan tensi tidak mudah berubah

Image Source

Sering kali orang tua yang melakukan check up kesehatan diminta oleh petugas medis untuk check up kembali 3 hari selanjutnya, atau 1 minggu bahkan 1 bulan setelah itu. Kejadian ini menjadikan orang salah mempersepsikan bahwa tekanan darah akan tetap stabil dalam rentan waktu yang ditentukan petugas medis. Padahal kekuatan tekanan darah bisa berubah dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh aktivitas apa yang sedang dilakukan jantung dan daya tahan pembuluh darahnya.

Bahkan dalam jarak 1 detik saja tekanan darah bisa saja berubah. Hanya saja, tensi dalam batas normal tidak berubah begitu saja secara signifikan. Berbeda dengan penderita hipertensi. Tekanan darah yang terlalu tinggi akan mengganggu sirkulasi darah yang umumnya terus bekerja setiap detiknya. Sehingga tekanannya tidak selalu stabil dari waktu ke waktu. Itulah alasan kenapa tenaga medis meminta untuk kembali check up dalam beberapa waktu ke depan.

3. Penyakit Keturunan

hipertensi bukan penyakit keturunan

Image Source

Ibu hamil dengan hipertensi atau preeklamsia dan atau eklamsia dipercayai akan menurunkan penyakit hipertensi tersebut pada janin yang dikandungnya. Keadaan hamil memang sering kali menyebabkan tekanan pada aliran darah manusia lebih cepat karena aliran darah tersebut tidak hanya dialirkan ke seluruh tubuh tetapi juga untuk janin dalam rahim. Sering kali jantung sebagai pemompa darah kelelahan karena harus memompa darah dengan cepat sehingga muncul sistol dan diastol yang tinggi. Tetapi bukan berarti janin yang dikandungnya juga berpotensi terjangkit penyakit yang sama.

Dokter Siska S. Danny spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Harapan Kita Jakarta mengatakan “Penyebab hipertensi itu banyak faktor. Ada karena gaya hidup tidak sehat, tapi memang ada juga kecenderungan genetik. Tidak bisa disebut karena keturunan, karena kalau keturunan jika ayah atau ibu hipertensi maka anaknya sudah pasti terjangkit”. Lebih tepatnya penyakit hipertensi diturunkan oleh orang tua kepada anaknya melalui meja makan. Seorang anak tentunya akan meniru kebiasan orang tua, terutama dalam mengkonsumsi makanan.

Untuk itu bisa jadi gaya hidup yang diturunkan orang tua menjadi potensi besar sang anak terjangkit hipetensi juga.

4. Hipertensi Terjadi Karena Emotional Tinggi

sering marah menyebabkan hipertensi

Image Source

Kerap kali orang dengan hipertensi memang cenderung lebih cepat marah. Anggapan tentang hal ini tidak sepenuhnya salah. Pada kenyataannya hipertensi berhubungan dengan perubahan suasana hati penderita, membuat lebih mudah marah daripada sebelumnya. Tetapi lebih tepatnya bukan emotional tinggi yang menyebabkan hipertensi terjadi, sebaliknya efek dari hipertensi adalah membuat penderita cenderung cepat marah dan mudah berubah mood-nya.

Hal itu terjadi dikarenakan penderita hipertensi tidak dapat mengendalikan stress dengan baik ditambah dengan pengaruh obat hipertensi yang dikonsumsinya.

5. Hipertensi Terjadi Karena Mengkonsumsi Garam Berlebih

garam penyebab hipertensi

Image Source

Hampir sama dengan bahasan sebelumnya. Garam disini bukanlah penyebab seseorang terjangkit hipertensi.

Namun, jika seseorang telah terjangkit penyakit darah tinggi paramedis memang menganjurkan untuk mengurangi kadar garam dalam makanan yang dikonsumsi dan meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung kalium. Karena dengan keadaan tekanan dalam pembuluh darah yang meningkat, kandungan garam yang berlebih dalam tubuh dapat mengakibatkan tingginya natrium dalam darah sehingga cairan tertahan dan tekanan darah semakin meningkat.

6. Terlalu Banyak Konsumsi Lemak Dapat Meningkatkan Tensi

makanan untuk hipertensi

Image Source

Sebenarnya tidak ada kaitannya konsumsi lemak dengan tekanan dalam pembuluh darah. Mungkin konsumsi lemak disini lebih tepatnya dikaitkan dengan kolesterol tinggi. Jika yang dimaksud adalah pengaruh obesitas, maka persepsi itu bisa dibenarkan. Karena meningkatnya berat badan mengakibatkan nutrisi dan oksigen yang dialirkan ke dalam sel melalui pembuluh darah juga meningkat.

Hal ini mengakibatkan peningkatan tekanan di dalam pembuluh darah dan jantung. Ditambah lagi jika penderita jarang berolahraga. Kurangnya aktivitas atau olahraga ringan dapat mengakibatkan peningkatan berat badan yang sekaligus memperburuk kondisi penderita dengan hipertensi.

Itulah beberapa rangkuman yang bisa kami bagikan tentang pendangan para ahli dan kebenaran teori tentang persepsi masyarakat tentang hipertensi. Be a clever ya, jangan dengan mudah mempercayai asumsi orang yang simpang siur. Tanyakan ke paramedis atau paling tidak mencari referensi untuk menguatkan persepsi yang ada. Semoga saran di atas bermanfaat 🙂